Selasa, 17 Maret 2009

Du Lide : Abaikan Cercaan dan Cacian


hati seluas samudera

Hati seluas samudera.

Menteri Tata Susila, Du Lide, dikenal juga dengan nama Chunyi berasal dari Baodi di Shuntian (wilayah Baodi sekarang di Tianjin) dan hidup pada masa Dinasti Qing (1644-1911).

Dia adalah guru privat sang pangeran dan terkenal dengan sifatnya yang jujur, pemaaf dan toleransi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Suatu hari ia mengajak seorang kusir dan membawa kuda keluar kota

Untuk suatu alasan yang aneh, si kusir menjadi terlibat dalam suatu perkelahian kecil dengan seorang pemabuk jalanan yang pada saat itu telah menyandungnya dan mengeluarkan cercaan.

Menteri Du bertindak seolah-olah tidak mendengar satu patah kata pun. Setibanya Du di rumah, pemabuk itu meneruskan caciannya di luar kediaman Du.

Keesokan paginya setelah tersadar dari mabuknya, pemabuk itu mengetahui dari orang lain bahwa ia telah mencerca dan merendahkan sang menteri sepanjang malam. Kemudian dia segera pergi mendatangi rumah kediaman menteri untuk minta maaf.

Du tidak mencacinya, bahkan memberi satu koin perak yang cukup bagi pemabuk itu untuk memulai sebuah usaha kecil. Laki-laki itu pergi dengan air mata di wajahnya.

Kemudian si pemabuk itu membuang gaya hidupnya yang tidak baik dan mulai bekerja keras untuk menjadi seorang manusia yang baik. Setiap tahun ia akan berkunjung ke tempat kediaman menteri Du, berlutut di depan Du untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena pengampunan yang diterimanya, menunjukkan rasa hormatnya serta berterima kasih atas bantuan keuangan yang ia terima. (The Epoch Times/lia)

Pertalian yang Ditakdirkan


pertalian-takdir
Dahulu kala ada seorang pemuda, yang telah berjanji untuk menikah dengan calon istrinya pada suatu hari, bulan dan tahun. Setelah tiba pada hari yang telah dijanjikan tersebut, calon istrinya malah telah menikah dengan orang lain. Pemuda itu merasa terpukul berat, lalu jatuh sakit tak kunjung sembuh. Keluarganya berusaha semampunya dengan menggunakan berbagai cara pengobatan, namun tak bisa berbuat banyak, bahkan napasnya tersengal-sengal.

Pada saat yang demikian, lewatlah seorang biksu dalam perjalanannya, dan setelah mengetahui keadaan pemuda itu yang sebenarnya, lalu biksu tersebut memutuskan untuk mencerahkannya sejenak. Si biksu lalu masuk ke kamar pemuda tersebut, dan mengeluarkan sebuah cermin dari dadanya kemudian menyuruhnya untuk melihat cermin tersebut.

Si pemuda itu melihat lautan yang luas dan melihat seorang wanita yang mengalami kebutaan sedang tergeletak di atas pantai dan bergeming sedikit pun juga. Seseorang lewat, memandang sekilas menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian pergi, lalu datang lagi seseorang kemudian melepaskan pakaiannya dan menyelimuti mayat wanita itu lalu pergi, dan datang lagi seseorang menuju ke sana kemudian menggali sebuah lubang, lalu dengan hati-hati menguburkan mayat wanita tersebut di tanah.

Si pemuda yang sedang sakit itu tidak mengerti makna dari semua yang dipandangnya. Biksu lalu menjelaskan dan berkata: "Wanita yang berada di pantai itu adalah calon istrimu pada kehidupan sekarang. Kau adalah orang kedua yang melewati jalan itu dan yang pernah menutupi dengan sepotong pakaian. Dia bercinta kasih dengan kau pada kehidupannya sekarang, hanya karena untuk membalas sebuah budi baikmu. Namun, pada akhirnya orang yang harus dibalas budinya seumur hidup adalah orang terakhir yang menguburnya dan orang terakhir itu adalah suaminya yang sekarang." Pemuda itu tiba-tiba sadar dengan apa yang telah terjadi! Dan penyakitnya juga segera sembuh!

Begitulah yang namanya jodoh (pertalian yang ditakdirkan) tidak bisa dipaksakan, jika memang milik Anda, maka cepat atau lambat pasti akan menjadi milik Anda. Dan jika memang bukan milikmu, tetap tidak akan bisa Anda miliki biar bagaimanapun cara Anda untuk mengusahakannya.(erabaru.or.id)*

Kelembutan Menaklukkan Kerasnya Hati


kelembutan

Selembut irama musik

Oleh karena di dunia ini ada sebagian orang yang senang menindas yang lemah tetapi takut pada yang kuat, maka dari itu membuat orang-orang timbul semacam kesalahpahaman, mengira bahwa dengan keras menanggulangi (melawan) yang keras akan menunjukkan bahwa dia seorang yang pandai.

Sebenarnya orang kuat yang benar-benar kuat akan menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan, hal itu baru benar-benar menunjukkan dia adalah seorang yang bijak!

Di dalam buku Lao Zi menjelaskan tentang “lemah lembut mengungguli keras hati”, dikatakan bahwa:

“Di dunia ini yang paling lemah lembut adalah air, yang keras dan kuat tidak selalu bisa menang, jika posisi ini ditukar. Lemah bisa menjadi lebih kuat, lembut bisa menjadi lebih keras, semua orang tidak ada yang tidak tahu, tidak semua bisa melaksanakan.”

Lebih-lebih jika seseorang sedang berada pada posisi yang lemah dan dalam keadaan yang tidak menguntungkan, ia hanya bisa menggunakan ‘memakai lembut menanggulangi keras’ barulah ada jalan menuju kemenangan.

Hati seseorang yang baik dan murni adalah semacam kekerasan dalam kelembutan, dia bisa memenangkan segala kekuatan dan kekerasan apapun yang ada di dunia ini.

Di suatu malam yang gelap gulita, seorang laki-kaki yang biasa merampas milik orang lain sedang menguntit seorang wanita di sebuah stasiun metro. Dia mengikuti wanita itu turun di sebuah stasiun kecil yang amat sepi.

Ketika itu, malam sudah larut dan sepi, dia bersiap-siap melakukan kekerasan di daerah itu. Dia bergegas melangkah melampaui wanita itu, tidak terduga wanita tersebut mendadak membalikkan badan.

Dengan nada yang amat tulus dan menaruh kepercayaan wanita itu mengutarakan permohonan kepada dia, malam telah larut orang yang berlalu lalang sangat sedikit, seorang wanita bila menempuh perjalanan seorang diri kurang aman, dia sangat senang bisa bertemu lelaki itu di sini, dan memohon kepada lelaki itu untuk mengantarkan dia sepanjang perjalanan.

Tingkah laku dari wanita tersebut, membuat lelaki yang bersiap-siap merampas ini seketika itu kehilangan akal, dan bingung, hanya menganggukkan kepala menyanggupi.

Di sepanjang perjalanan, wanita itu memperlakukan lelaki itu bagai teman yang sudah lama dikenal dan berbincang-bincang dengan akrabnya, sama sekali tidak ada maksud menganggap lelaki itu sebagai orang jahat apalagi menaruh waspada terhadap dia. Hal tersebut telah membuat lelaki yang sebenarnya ingin melakukan kejahatan terhadap wanita tersebut, tanpa disadari telah mengantar wanita tersebut hingga di depan pintu rumahnya, dan dari awal hingga akhir tidak melakukan suatu tindakan asusila apapun.

Setelah kejadian itu, lelaki tersebut mengingat kembali dan berkata, dia sebenarnya ingin melakukan kekerasan terhadap wanita tersebut, akan tetapi gerak-gerik tingkah laku yang baik dan tulus dari wanita ini, telah membuat sifat kemanusiaan yang terpendam di dalam hatinya itu tergugah dan membuat dia telah membatalkan semua niat jahatnya.

Wanita tersebut dalam situasi yang genting telah menunjukkan hati yang tulus dan baik, telah menggugah sisi kebaikan dari sifat kemanusiaan pria itu, juga di dalam situasi yang sangat sulit telah menolong diri sendiri.

Cara yang digunakan wanita itu adalah mengunakan lembut menanggulangi keras untuk mengubah lelaki itu, sehingga membuat dirinya terhindar dari bencana.

Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Empat liang (4 x 50 gram) menggerakkan seribu kati”, yang dibicarakan di sini adalah prinsip ‘kelembutan menaklukkan kekerasan’. Menelusuri sejarah, tidak sulit bisa kita temukan, acapkali orang yang sangat keras mudah sekali ditaklukkan dan dimanfaatkan oleh orang yang lemah lembut.

Untuk membawa diri dalam masyarakat lebih dibutuhkan kemahiran menggunakan kelembutan untuk menaklukkan kekerasan.

Kebanyakan orang yang bersikap keras, perasaan hatinya mudah tersentuh maka akan sangat mudah membuat orang menjadi kehilangan akal budi, hanya berdasarkan emosional sesaat ia telah memutuskan melakukan atau tidak melakukan suatu hal, ini merupakan ciri khas dari orang yang sifatnya keras, kebetulan juga merupakan titik kelemahan yang mematikan.

Sebongkah batu besar jika jatuh di atas setumpuk kapas, maka bisa dengan mudah terbungkus oleh kapas. Bila memakai kekerasan untuk menaklukkan kekerasan maka kedua-duanya akan menderita kerugian.

Jika menjumpai suatu masalah, lebih-lebih dalam keadaan yang sangat mendesak, mereka yang mengerti akan menggunakan kelembutan untuk menaklukkan kekerasan, itu baru merupakan manifestasi dari seorang yang bijak (arif).(Epohctimes.co.id/lin)

Raja yang Iri Hati dan Gajah Putih

gajah-putihPada zaman dahulu kala, negeri ada seorang raja yang memelihara beberapa ekor gajah. Diantara kelompok gajah itu, ada seekor yang bentuknya sangat unik, seluruh tubuhnya putih bersih, bulunya halus dan licin mengkilap Belakangan, raja menyerahkan gajah itu pada seorang pelatih gajah untuk dipelihara.

Pelatih gajah itu tidak hanya memperhatikan kehidupan sehari-hari gajah tersebut, juga sangat tekun melatihnya. Gajah putih ini sangat cerdas, mengetahui maksud baik orang, dan setelah beberapa waktu berlalu,. Mereka telah membentuk suatu hubungan baik yang tak terucap.

Pada suatu hari, negeri itu mengadakan sebuah upacara perayaan yang meriah. Raja bermaksud menunggangi gajah putih pergi menghadiri perayaan itu, karenanya si pelatih gajah membersihkan sang gajah putih, menghiasnya sejenak, dan setelah menyandangkan selembar selimut di punggungnya, baru menyerahkan pada raja.

Dibawah dampingan sejumlah pejabat, raja menunggangi gajah putih pergi ke kota kabupaten menyaksikan upacara perayaan. Oleh karena sang gajah putih itu benar-benar sangat bagus, orang-orang mengelilinginya, sembari berdecak kagum sambil berseru nyaring : Raja gajah!raja gajah dan disaat itu, raja yang menunggang diatas punggung gajah, merasa semua kemeriahan dan semaraknya telah direbut oleh gajah putih itu, dalam hatinya benar-benar merasa sangat tidak senang, dan iri. Dan setelah dengan cepat mengelilingi satu putaran, lantas dengan perasaan tidak gembira ia kembali ke istana.

Begitu masuk ke dalam istana, ia bertanya pada pelatih gajah “Gajah putih itu, apakah mempunyai teknik seni yang spesial ? “ si pelatih gajah bertanya pada raja : “ Saya tidak tahu dari segi mana yang dimaksud baginda ?” Raja berkata : “Apakah ia bisa mempertunjukkan teknik seninya di ujung lereng yang terjal ?” lalu kata si pelatih gajah : “Semestinya bisa.” Raja lantas berkata : “Baik. Kalau begitu, besok memintanya untuk mempertunjukkan teknik seninya di lereng terjal.”

Pada hari kedua, dengan berdasarkan perjanjian pelatih gajah membawa gajah putih ke luar lereng terjal disana. Raja berkata : “Apakah gajah putih ini bisa berdiri di ujung lereng dengan 3 kaki?” Pelatih gajah mengatakan : “Ini gampang saja.” Ia naik ke atas punggung gajah, dan berkata pada gajah putih : “Ayo, berdiri dengan 3 kaki.” Dan ternyata, gajah putih lantas segera mengerutkan satu kakinya.

Kemudian raja berkata lagi : “Apakah ia bisa menggelantungkan kedua kakinya ke atas, dan hanya berdiri dengan dua kaki?” “Bisa” si pelatih gajah lalu menyuruhnya mengkerutkan ke dua kakinya, dan dengan patuh gajah putih mengikuti perintah si pelatih. Selanjutnya raja berkata lagi : “Apakah ia bisa menggelantungkan ke tiga kakinya ke atas, dan hanya berdiri dengan satu kaki ?”

Begitu mendengar perkatan Raja, si pelatih tahu bahwasannya raja sengaja ingin memojokkan gajah putih, lantas berkata pada gajah putih : “Kali ini kamu harus hati-hati, kerutkan ketiga kaki, dan berdiri dengan satu kaki.” Sang gajah putih dengan ekstra hati-hati melaksanakannya. Mengetahui permintaan raja yang demikian, Massa yang mengelilingi menyaksikan, dengan antusias memberikan semangat dan bersorak-sorak pada gajah putih! Semakin melihat, dalam hati raja semakin tidak senang, lalu berkata pada pelatih gajah : “Apakah ia juga bisa mengerutkan kaki belakangnya, dan menggelantungkan seluruh tubunya keatas ?”

Di saat itu, secara diam-diam si pelatih gajah berkata pada gajah putih : Raja sengaja ingin membunuhmu. Karena ia tidak tidak bermoral, kita bisa sangat riskan berada disini. Kamu bisa, kan mebubung kelangit terbang ke lereng seberang sana? Dan secara tak terbayangkan, diluar dugaan sang gajah putih itu benar-benar menggelantungkan kaki belakangnya ke atas dan mulai terbang, dengan memboncengi si pelatih gajah melintasi lereng terjal, dan memasuki negeri tetangga.

Mengetahui gajah putih terbang ke sana, rakyat seluruh kota negeri tetangga berseru gembra. Dan dengan sangat gembira raja tetangga bertanya pada si pelatih gajah : Asalmu dari mana ? dan kenapa bisa menunggangi gajah putih datang ke negeri saya ? Kemudian si pelatih gajah menjelaskan seluk-beluk hal ,ihwal yang dialaminya dan memberitahu pada raja. Setelah raja mengetahuinya, ia berkeluh mengatakan :

“Manusia, mengapakah harus memperbandingkan dan merasa iri dengan seekor gajah ?”

Melalui kisah cerita diatas, dapat kita ketahui : Bahwa berkultivasi, yang terpenting adalah harus menyelaraskan dengan baik hati kita sendiri. Terhadap orang dan pekerjaan sehari-hari, harus mengandung sebutir hati yang harmonis dan damai.

Pepatah mengatakan :Jika orang lain bisa sukses, hati kita jangan mengandung perasaan iri, malahan semestinya berseru kagum dan gembira, ini adalah kunci untuk memiliki kehidupan yang bahagia. (erabaru.or.id)*

Kisah dibalik Pepatah China: “Mengairi Kebun Melon Negara Tetangga”


farmer
Song Jiu adalah seorang hakin negara Bian yang dekat dengan perbatasan negara Liang sebelum dia menjabat sebagai pejabat tinggi. Negara lain dari perbatasan tersebut adalah negara Chu. Kedua negara tersebut menabur benih melon di perbatasan dan masing-masing akan memeriksa bersama-sama hasil panen buah melon mereka. Penduduk negara Liang sangat rajin dalam bertani dan mengairi kebun mereka setiap hari. Sehingga kebun melonnya tumbuh dengan sangat baik. Penduduk negara Chu malas bekerja dan melalaikan pengairan. Sehingga mengakibatkan kebun melonnya tidak tumbuh dengan bagus.
Hakim dari perbatasan negara Chu menjadi cemburu dan jengkel ketika melihat perbedaan kebun melon dari kedua negara tersebut. Atas pengaruh dari hakim Chu, penduduk negara Chu menjadi cemburu dan marah dengan penduduk yang ada di negara Liang. Pada malam hari mereka menyelinap kekebun melon negara Liang dan serta merta merusak beberapa melon-melon mereka. Hari berikutnya ketika penduduk negara Liang menemukan tentang kerusakan ini, lalu mengadukannya kepada pimpinan tentara dan menyampaikan keinginannya untuk mengadakan pembalasan. Pimpinan tentara melaporkan semua ini kepada Song Jiu dan menanyakan persetujuannya untuk membalas. Song Jiu menjawab, “kejahatan hanya akan menghasikan kejahatan, jika engkau membalas kejahatan mereka, engkau akan hanya membuat suatu keburukan. Jika anak saya mempunyai kebun melon, saya akan menyuruh dia untuk mengairi kebun melon negara Chu pada malam hari dan melakukan perbuatan baiknya tersebut secara diam-diam”.


Setelah itu lalu penduduk negara Liang mengairi kebun melon milik penduduk negara Chu secara diam-diam di malam hari. Kadang-kadang penduduk negara Chu juga mengairi kebun melonnya disiang hari. Sehingga pada akhirnya kebun milik penduduk negara Chu tumbuh dengan baik. Orang-orang dari negara Chu merasa bingung, mengapa melon mereka dapat tumbuh dengan baik padahal mereka merasa kurang dalam bekerja. Mereka mulai menyelidiki rahasia dibalik semua ini, dan kemudian ditemukan bahwa karena penduduk Linglah yang telah mengairi secara diam-diam kebun melon milik mereka. Ketika hakim dari negara Chu mengetahui tentang kebenaran tersebut, dia merasa senang lalu melaporkan semuanya ini kepada raja negara Chu. Raja negara Chu merasa malu atas perbuatan yang dilakukan oleh rakyatnya dan berkata kepada hakim, “bagaimana engkau bisa membiarkan rakyatmu untuk merusak kebun melon milik rakyat negar Liang?. Itu sangat jelas sekali bahwa rakyat negara Liang memiliki sebuah hati yang sangat mulya dibandingkan dengan rakyat Chu”. Raja negara Chu lalu mengirim banyak uang kepada negara Liang sebagai rasa terimakasih dan rasa maaf dan menyampaikan keinginannya untuk menjalin hubungan persahabatan diantara kedua negara. Kedua negara tersebut menjalin hubungan persahabatan karena perilaku Song Jiu.(erabaru.or.id)*


Disadur dari cerita idiom, “mengairi kebun melon milik negara tetangga”, yang artinya adalah perkelahian yang tidak perlu dilakukan hanya karena masalah yang tidak berarti.


Translated from : http://www.zhengjiang.org/zj/articles/2005/6/13/23888.html

Bulan yang Iri Hati

bulan
Langit ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari ketinggian. Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit.

Bulan merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,"Lihat, teman-teman. Mereka mengagumiku." "Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami," kata sebuah bintang. "Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!" sahut Bulan. "Huh, sombong!" sungut sebuah bintang pada teman-temannya.


"Dia boleh saja sombong. Tapi, dia tak kan dapat mengalahkan Matahari," kata bintang yang lain. "Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak bisa mengalahkan Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya. Pagi hari, saat Matahari terbit, orang-orang ingin menyaksikannya. Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur untuk kesehatan. Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar terik, orang-orang tidak mengumpat. Mereka hanya mencari tempat yang teduh. Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang dicuci orang. Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia hebat," kata sebuah bintang. "Tidak sombong lagi!" sahut bintang yang lain.


Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal.


Pagi datang. Matahari segera menghampiri bulan.


"Selamat pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat." "Tidak!" "Lo, kenapa?" tanya Matahari heran. "Aku pun ingin bekerja pada siang hari," sahut Bulan. "Bulan, siang hari akulah yang bertugas. Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara nanti malam," kata Matahari. "Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung denganmu," kata Bulan. "Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari makin bingung. "Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?" "Bagaimana caranya?" tanya Matahari.


"Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai orang-orang," kata Bulan. "Ha ha ha," Matahari tertawa geli. "Bulan, di pagi hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?"


Bulan tidak perduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Matahari. Tetapi, kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat dariku," Bulan menangis sedih.


"Benar 'kan Matahari lebih hebat," kata bintang-bintang yang mengelilinginya. "Sekarang beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba." "Tidak, aku tidak mau! Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?" sahut Bulan sedih. "Bulan, dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur sebuah Bintang pada Bulan.


Bulan berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong. "Bulan, coba lihat!" kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak melambai-lambaikan tangan. "Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu. "Tapi uaaaah...." Bulan menguap. "Bulan mengantuk karena sepanjang siang tidak tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat," kata bintang-bintang.


Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap hadir setiap malam.

(erabaru.or.id)*

Mata Ikan Bercampur Mutiara


Cao cao lolos dari maut

Cao cao lolos dari maut

Tatkala Cao Cao berusia 38 tahun, ia menyerbu Bu Yang (kini wilayah selatan propinsi Hebei) yang diduduki oleh Lu Bu, dua kali bertarung tetap tak bisa merebutnya. Saat itu, dari dalam kota Bu Yang terdapat seorang kaya bermarga Tian mengutus kurir mengantarkan surat, ia menyatakan siap menjadi partner dari dalam dan bersekongkol dengan pasukan Cao.

Meskipun terdapat kemungkinan dijebak, tetapi Cao Cao tetap saja menempuh marabahaya melakukan penyerbuan.

Akan tetapi, entah karena Lu Bu sudah memasang pendeteksi dini, ataukah klan tersebut telah mengkhianatinya, pasukan Cao Cao masih saja kalah, sewaktu pasukannya mundur Cao Cao juga telah kehilangan kekuatan pasukan utamanya dan terlepas kontak dengan pasukannya.

Tiba-tiba, di depan Cao Cao muncul beberapa pasukan kavaleri, karena sendirian tentu bukan lawan tanding bagi musuh, jika melawan pasti mati. Pasukan musuh datang melesat dan menangkap Cao Cao, dan menanyainya dengan keras, “Cao Cao dimana?”

Dari bentakan pasukan musuh itu, hati Cao Cao yang semula gugup kini malah menjadi relaks. Cao Cao berpikir dalam hati, “Ternyata pasukan ini sama sekali tidak mengenaliku.”

Di dalam situasi gawat timbul kecerdikan, telunjuknya sekenanya menuding ke arah prajurit yang menunggang kuda kuning sambil berkata, “Itu dia.”

Pasukan berkuda itu segera melepas Cao Cao untuk mengejar prajurit yang berkuda kuning. Maka Cao Cao bergegas menuju keluar kota, berhasil menerobos kepungan api dan lolos dari pintu timur, hanya ada keterkejutan tapi tak ada bahaya dan ia berhasil kembali dengan selamat ke markasnya.

Tidak gugup dan tidak terburu nafsu sewaktu menghadapi marabahaya, barulah berhasil memunculkan kecerdikan, dan begitu inspirasi tergerak, terlontarlah siasat jitu. (edu.ocac.gov.tw/Minghui School/whs)